by: Baiq Yulia Pratami

Nampak sedih dan mengkerut diraut wajah, yang kini tak lagi kencang. Rambut yang kian putih, menjadi tanda bahwa alur hidup telah lama dilewati. Sebaris kata yang selalu terucap, dari bibir yang kini tak lagi mampu menepis.

Andaikan waktu itu tak sampai hati, mungkin sekarang tak akan ada lingkaran api. Memaksa orang yang ada didalam nya, untuk tegar dan teguh tak terbakar. Letih dan lelah? putus asa?
Sudah menjadi makanan sehari hari. Nikmat di kala senja, kini tak bisa di rasakan.

Betapa tidak, setelah milyaran kata keluar. Tak satupun dapat digubris dalam perbuatan. Entah harus memulai darimana, agar segala dilema dan masalah dapat segera terobati.

Luka masih lebam, namun tak ada obat manjur yang dapat ditemukan. Fikirnya “Tuhan mendengar doa setiap hamba”
Itulah sebagai penenang jiwa. Dalam angan yang selalu terbang, memaksa untuk selalu tegar menyongsong bahagia.

Anak yang telah lama dinanti, kini tumbuh bak semak belukar. Ketika salah menginjak, maka tak pandang bulu untuk melukai.
Nampak kecewa dalam pancaran mata. Bagaimana tidak?
Semak belukar kini semakin menyakiti.
Tiada kata yang mampu diucapkan lagi, tiada perbuatan yang mampu memperbaiki lagi.
Selain dari hikmah sang Maha Pemberi.

Mengharap suatu saat Ia kembali ke pangkuan. Bertekuk lutut dan memohon pengampunan.
Semoga tak menyesal kekita mereka telah tiada.

Hanya doa dalam jiwa yang mampu menolong. Berikan hidayah dan maghfiroh pada Ia yang tak tau arah.

Komentar