Mambalan, Daerah Bangsawan Tanpa Menunjukkan Kebangsawanannya

Berdasar catatan,  Kedatuan Mambalan berdiri sekitar 1600-an atau 1650-an. Namun,  tokoh masyarakat Mambalan, Datu Karsa menyebut angka 1672 untuk berdirinya kedatuan Mambalan.

Lalu Djelenge dalam buku Keris di Lombok menuturkan Deneq Mas Undah Putih,  Datu Pejanggik yang merupakan buyut dari Deneq Mas Putra Pengendeng Segara Katon Rembitan memerintahkan anaknya Deneq Mas Permas Gingsiran agar mendirikan wilayah kekuasaan di Mambalan. 

Setelah Deneq Mas Permas Gingsiran meninggalkan tampuk kekuasaan, roda pemerintahan Kedatuan Mambalan di pegang oleh anaknya, Deneq Mas Laki Gigiran. Walau Mambalan berbentuk kedatuan  namun pola pemerintahan  tidak seperti layaknya pemerintahan kerajaan/ aristokrasi.

Menurut Budayawan Mambalan, Raden Muhamad Rais Datu Mambalan tidak menampakkan diri sebagai seorang penguasa. Ia lebih menyerupai rakyat biasa dengan berpakaian layaknya rakyat kebanyakan. Begitupun dengan pola kehidupannya, tidak mencolok.

Perilaku demikian, jelas Rais boleh jadi merupakan pemahaman Datu Mambalan yang begitu mendalam  kepada ajaran Islam. “Beliau menerapkan ajaran islam –fiqih dan tasawuf — dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Dijelaskan, Kedatuan Mambalan tidak memiliki keraton dan datunya bekerja sebagaimana layaknya masyarakat seperti bertani.

Kesederhanaannya, membuat rakyat  Mambalan patuh dan hormat kepadanya. Sehingga, Mambalan menjadi Kedatuan yang kuat baik dari sisi ekonomi maupun militernya (daerah yang sulit ditaklukan dengan kekuatan senjata).

Guna mengikat kekerabatan, Anak Agung Ngurah Karang Asem mengambil salah seorang Putri Mambalan yakni Dende Fatimah untuk dijadikan istrinya.

Datu Mambalan melihat kekerabatan tersebut bisa mengamankan Kedatuan dari serangan Cakranegara. Maka terjadilah pernikahan Anak Agung Ngurah Karang Asem dengan Dende Fatimah.

Dikemudian hari, pernikahan Anak Agung Ngurah Karang Asem baik dengan Dende Aminah yang berubah nama menjadi Dewi Nawangsasih Putri dari Kalijaga  maupun Dende Fatimah Putri dari Mambalan memberi kontribusi berkurangnya tekanan kekerasan Puri Cakranegara  kepada rakyat Lombok khususnya yang beragama Islam.

Walau tidak ada keraton dalam memerintah rakyat, Kedatuan  Mambalan terus berjalan hingga 1800. Memasuki 1868, Kedatuan Mambalan berubah menjadi Desa dan Dusun seiring kekuasaan Anak Agung Ngurah Karang Asem, penguasa Puri Cakranegara.

Sejak itu, penyebutan kepala pemerintahan di Mambalan berubah menjadi Penglingsir  dengan Datu Cempa sebagai kepala desa pertama.

Pergulatan kekuasan dan konflik peperangan di Lombok yang melibatkan suku sasak dengan penguasa Puri Cakranegara memberi warna bagi kehidupan masyarakat. Namun, Pranata sosial  layaknya kehidupan masa lalu sebagai identitas status sosial seperti panggilan Datu, Raden, Lalu dan Jajar Karang masih ditemukan di masyarakat Mambalan hingga kini. “Masyarakat masih tetap menghormati panggilan itu,” jelas Rais.

Adanya sebutan Kebangsawanan, tidak menjadi jurang pemisah dalam kehidupan bermasyarakat di Mambalan  Mereka hidup saling menghargai dan selalu mengedepankan kerukunan. “Ini buah perilaku leluhur Mambalan yang selalu memberikan tauladan kepada masyarakatnya,” jelas Rais.

Menurut Rais, Datu Mambalan selalu memberikan contoh terbaik dalam berperilaku. Ia tidak membedakan status sosial masyarakatnya. Semua dihargai sebagaimana mestinya.

Bahkan, Datu Mambalan tidak segan-segan turun ke lapangan membantu masyarakat. Misalnya, ketika ada masyarakat bergotong royong, Datu turut mengangkut sampah atau membersihkan tempat yang kotor.

Tidak adanya sekat dalam tata kehidupan masyarakat, hingga kini warga Mambalan tetap menaruh hormat kepada keturunan Datu Mambalan dan tetap menjaga kehormatan Mambalan.

Bukti penghormatan kepada para Datu, jelas Datu Karsa yang diamini Raden Rais juga Lalu Rahman –juru rawat Makam Lalu Gede–  bisa dilihat dari masih berlakunya tatanan di Pemakaman Baturiti.

Dibagian utara dengan kondisi tanah lebih tinggi diperuntukkan bagi warga bergelar Datu. Agak ke selatan diperuntukkan bagi warga bergelar Raden. Kemudian ke selatan lagi diperuntukan warga bergelar Lalu, baru yang paling selatan pemakaman bagi masyarakat biasa atau jajar karang.

Mengenai makam salah satu Datu Mambalan yang berada ditengah dan dinilai paling tua, Muhamad Rais menjelaskan Datu Mambalan mengayomi seluruh Masyarakat Mambalan tanpa melihat status atau Datu Mambalan hidup ditengah rakyatnya.

Sumber: Facebook Gruop “Bancangah Deneq Mas Permas Singsiran”

Komentar