by: Baiq Yulia Pratami

Telapak tangan yang mulai membiru
Sesak didada tak dapat dibendung
Namun jemari, masih enggan menengadah
Meminta belas kasih dan belaian lembut
Raga yang sontak tak mampu bergerak lagi
Gema suara yang tak dapat di utarakan
Seakan hari pembalasan itu semakin dekat
Menuntut paksa siapa saja yang telah mencicipi manisnya dunia fana yang begitu menggelitik.
Tak terbendung lagi, setiap insan yang ada takkan mampu mengundur, bahkan menghentikan hitungan waktu yang terus bergulir
Apa jadinya?
Mendapati kenyataan bahwa hidup tak hanya tentang dunia
Milyaran tubuh dan tulang terbujur kaku dalam timbunan tanah yang bernaung didalamnya.
Sepi, sunyi, tak kan ada yang mampu memberi uluran tangan
Yang ada hanya penyesalan
Menyesal bahwa, mengapa dulu tak taat pada ilahi.
Sedang diri yang begitu hina, sudah tak mampu memperbaiki
Deraian air mata penyesalan, seakan tak mampu menebusnya.
Runtuhan tangis kini datang bak hujan deras. Rasanya ingin kembali, namun tak kan mungkin di gapai radar.
Sebab hal ini pasti terjadi, bahkan kamu?
Tak mampu lari dari-Nya
“Setiap yang bernyawa, pasti akan merasakan mati”

Komentar